Ku Temukan Banten Diujung Barat Pulau Jawa
Di ujung bukit karang yang berbatu Beranda rumahku
Tumbuh tumbuhan liar tak tahu malu
Adakah yang lebih
indah dari semua ini
Rumah mungil dan
cerita cinta yang megah Bermandi cahaya di padang bintang
Penggalan lirik lagu
ini selalu menjadi hiburan petangku kala dulu, sayup- sayup lirik lagu yang
selalu aku dengar setiap petangnya ini berasal dari bilik rumah tetanggaku. Aku
sangat menikmati lagu diatas, klasik memang, tapi aku menyukai setiap liriknya,
aku memaknai bagian dari tiap liriknya yang keseluruhannya menggambarkan bahwa
sejauh apa pun kita pergi, rumah akan selalu dirindukan.
Namaku "⇝⇜", aku adalah seorang mahasiswi kebidanan di salah satu perguruan tinggi
swasta di Bandung, aku berasal dari daerah nan jauh disana, daerah yang hanya
sebagian kecil orang tahu keberadaanya, dan daerah yang terkenal dengan badaknya
yang bercula satu. Ya, Taman Nasional Ujung Kulon, tepatnya di kecamatan Sumur,
Pandeglang, Banten. Tidak banyak orang tahu daerah ini, bahkan orang asli Banten
sendiripun hanya sedikit yang tahu tentang keberadaan daerah ujung kulon di
Banten.
Daerah yang terletak
di ujung barat pulau Jawa ini merupakan salah satu kawasan taman nasional yang
tertua di Indonesia yang sudah diresmikan sebagai salah satu warisan dunia yang
dilindungi oleh UNESCO pada
tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat
luas, sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini. Hal inilah yang banyak menarik hati para
wisataan untuk berkunjung ke tempat ini.
Taman Nasional satu ini terbilang
cukup unik, pasalnya dulu kawasan ini merupakan daerah pertanian yang sangat
subur di era kerajaan Hindu, namun setelah tragedi Krakatau tahun 1883 kawasan
seluas lebih dari 100 ribu hektar tersebut berubah menjadi hutan kembali. Disamping
fungsi utamanya sebagai kawasan pelestarian alam serta pusat penelitian dan
perlindungan hewan, kawasan ini juga telah dikembangkan sebagai tujuan wisata
alam yang cukup banyak diminati, tidak hanya badak bercula satunya saja, namun
kawasan ini menawarkan beberapa tempat wisata yang bisa memanjakan mata
wisatawan.
Masyarakat yang hidup di kawasan taman nasional ujung kulon ini
bisa dikatakan sebagai masyarakat pesisir; karena masyarakatnya tinggal dan
melakukan aktifitas sosial ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya wilayah
pesisir dan lautan, sehingga ketergantungannya pada pemanfaatan sumber daya
pesisir sangat besar. Masyarakat di kawasan ini sebagian besar bermata
pencaharian sebagai nelayan, siapa sangka masyarakat yang hidup dikawasan yang
memiliki banyak tempat destinasi wisata yang dapat memanjakan wisatawan, namun
tidak bisa memanjakan masyarakatnya. Masyarakat Taman Nasional Ujung Kulon hidup
dalam ketidakpastian karena kehidupan perekonomiannya bergantung pada Kondisi
alam, terkadang beberapa pekan nelayan tidak melaut oleh karena musim yang
tidak menentu. Kemiskinan seakan menjadi momok yang melekat pada masyarakat
nelayan.
Dari beberapa Fenomena tentang masyarakat
Ujung Kulon diatas dibutuhkannya solusi yang dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat di kawasan wisata ini. Menurut penulis salah satu cara alternatif dalam memperbaiki
perekonomian adalah melalui
pariwisata. Pariwisata tidak bisa berdiri
sendiri tanpa ada aspek-aspek yang mendukungnya, diantarannya adalah penyediaan jasa travel. Karena dengan jasa travel ini para wisatawan dapat lebih
mudah dalam menjangkau destinasi yang diinginkannya. Selain itu, dengan
adanya jasa travel memberikan kemudahan pada wisatawan untuk memperkirakan
budget yang akan dihabiskan untuk tripnya. Penyediaan jasa travel ini bila
dilihat dari aspek pendayagunaan sumberdaya manusia maka akan banyak orang yang
akan terlibat didalamnya, seperti dibutuhkannya pemandu wisata, bagian
administrasi, dan bagian marketing yang
memasarkan produk jasa travelnya. Ketiga unsur bagian tersebut hanyalah
bagian terkecil yang ada di dalam jasa travel, pada kenyataannya nanti akan
lebih banyak lagi orang yang terlibat dalam pelayanan jasa travel, hal ini
secara tidak langsung akan semakin memperluas lapangan pekerjaan bagi
masyarakat disana, sehingga dapat meningkatkan taraf kehidupan melalui
peningkatan pendapatan.
Selain itu ternyata masih ada lagi industri ekonomi kreatif yang
dapat dikembangkan berkaitan dengan adanya obyek wisata. Setiap
orang yang melakukan perjalanan
wisata tidak akan
pulang dengan tangan kosong, mereka akan mencari sesuatu
sebagai tanda mata dari hasil perjalanannya. Untuk itu sebagai salah satu
langkah membentuk ekonomi kreatif adalah dengan membangun usaha pembuatan tanda mata dan
oleh- oleh khas daerah, tanda mata ini bisa berbentuk pernak- pernik atau
makanan khas daerah setempat. Jika
dalam jasa travel hanya membutuhkan orang- orang yang mempunyai
keahlian, namun dalam industri ekonomi kreatif ini semua kalangan bisa didayagunakan didalamnya.
Tidak hanya itu, Selain mengangkat tanda mata dan oleh-oleh sebagai
industry ekonomi kreatif melalu cindera mata, kita juga dapat mengembangkan potensi hiburan atau
kesenian yang ada di daerah tersebut. Sehingga ketika para wisatawan datang
mereka akan dimanjakan dengan hiburan khas daerah setempat.
Seperti halnya “Kuda Lumping” adalah salah satu bentuk kesenian yang masih
sangat digemari oleh penduduk setempat disemua kalangan.
Dengan adanya industri
ekonomi kreatif yang mengangkat dibidang ini, para pelaku seni yang berada di daerah
tersebut dapat menuangkan
karyanya, sehingga mereka memilki tempat untuk mengkreasikan keahlianya dan
mendapatkan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya. Ketika berbicara
mengenai kesenian maka erat kaitannya dengan penggunaan properti kesenian yang akan dibutuhkan, maka hal ini juga akan meningkatkan permintaan properti kesenian
kepada para pembuat properti.
Inilah
potret Banten yang aku temukan diujung
barat Pulau Jawa. Banten yang menjadi rumah tempat aku pulang, sejauh apa pun aku pergi, rumah akan selalu dirindukan
seperti penggalan lirik lagu yang selalu aku dengar pada petang itu. Aku ingin
Bantenku sekarang dan di masa depan seindah aku mendengar lirik lagu pada
petang itu.
Daftar Pustaka
Nasution A, Badaruddin. Isu-isu kelautan dari
kemiskinan hingga bajak laut. Yogyakarta: Pustaka Pelajar; 2005.
Suharto. Membangun masyarakat memberdayakan rakyat. Bandung:
Refika Aditama. 2005.
Hermanto. Menggapai asa dengan pariwisata. Semarang:
UNS; 2016. [online] Dalam http://hermanbisa24.blogspot.com/2016/10/essay-pariwisata.html?m=1
diunduh pada tanggal 15 November tahun 2018, pukul 21:13.
https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Nasional_Ujung_Kulon diakses pada tanggal 15 November, pukul
23:05.
Komentar
Posting Komentar